Friday, October 30, 2020

CERITA ANGGREK: GAGAL MENGHIBRIDKAN Dendrobium aphyllum X Dendrobium Genting Royal

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai guys….

Ceritanya Dendrobium Genting Royal telah mekar, namun tidak ada lawan silangannya. Beberapa jenis Dendrobium lainnya masih spike. Sedang Dendrobium aphyllum yang kwalitas 1 telah usai berbunga. Tinggal Dendrobium aphyllum kwalitas 2 yang memang ukuran plant dan diameter bunga lebih kecil.

Yah gpp lah, untuk menambah pengalaman menyerbuk buatan, akhirnya pollen Dendrobium Genting Royal dibuahkan ke seed Dendrobium aphyllum.

Ada dua pasang kuntum Dendrobium aphyllum yang dibuahi oleh pollen Dendrobium Genting Royal. Ternyata pembuahan gagal ya gaes. Mungkin karena kuntumnya sudah terlalu tua atau sebab lainnya.

Begini penampakannya.

 


Untuk menyakinkan mengapa gagal, insya Allah akan disilangkan lagi part 2. Tetap Dendrobium Genting Royal sebagai pollen parent.

Barakallah 4u all

Saturday, October 24, 2020

PUKAUAN ANGGREK HIBRID: Dendrobium Genting Royal

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Diregistrasi tahun 2001

Oleh Chaw Chin Sin

Di The Royal Horticultural Society

Dari indukan: Dendrobium Kiilani Gold × Dendrobium Banana Royal





Warna putih pada sepal dan petal serta warna ungu pada lidah lebih sedikit atau samar dibanding salah satu induknya, Dendrobium Banana Royal

  

Merasa meremehkan karena sebagai dendrobium hibrid akan mudah dirawat, ternyata efeknya negatif. Cukup lama pertumbuhannya lambat. Setiap tumbuh tunas anakan baru, tampilannya menyedihkan. G banget pokoknya.

Alhamdulillah, setelah diganti tritmennya, dia pun menunjukkan pesonanya, setelah 4 tahun lebih dari kedatangannya.

Sempat bingung juga nyari ID-nya. Awalnya kukira Dendrobium Aridang Green. Tapi bedanya sangat banyak. Saat diunggah di satu grup ada yang melontarkan ID Dendrobium Banana Royal. Namun ternyata juga tetap berbeda, karena anggrek hibrid koleksi memiliki tangkai bunga berwarna ungu. Begitu juga bulb ada semburat warna ungu. Daun juga berlis ungu. Akhirnya dengan cucoklogi, alhamdulillah ketemu juga ID-nya, Dendrobium Genting Royal.

 

Warna bunga sebenarnya masih kategori hijau ya gaes
Hp nya yang g bisa merilkan warnanya
Mohon maklum

 

Secara tampilan bunga, banyak mewarisi gen Dendrobium Banana Royal. Kalau kita g teliti mungkin akan mengiranya sebagai Dendrobium Banana Royal. Berikut beda keduanya:

Tangkai bunga berwarna ungu


Tepian daun (lis) semburat warna ungu

 

Bulb semburat warna ungu

 

Selain beda pada warnai tangkai, garis-garis ungu pada lidah juga tidak setua dan sebanyak Dendrobium Banana Royal.

Berkeinginan untuk disilang dengan Dendrobium aphyllum, karena hanya Dendrobium ini yang lagi mekar bersamaan. Mudah-mudahan bisa terealisasi/berhasil. Hmm membayangkan saja, kira-kira jadi apa ya anakannya kelak?

Oh ya, bunga perdana ada 13 knop. Sebagian sudah mekar, separuh lagi masih knop. Semoga mekar sempurna semuanya, aamiin.

Oh ya pula, Dendrobium ini wangi lho, meski hanya mulai pagi hingga menjelang sore saja. Namun ku tidak bisa mendeskripsikan wanginya seperti apa.

Ok, kalau ketemu anggrek ini segera eksekusi ya, cantik dan wangi. Pada tahun 2015 rarenya. Entah pada tahun 2020 ini rare apa tidak. Namun setidaknya, ku jarang menjumpai postingan Dendrobium Genting Royal ini. Bahkan di youtubepun hanya 3 saja yang memvideokan.

 

Katanya kalau gilap seperti ini bunganya awet
Hmmm semoga begitu karena ini baru seminggu lebih mekarnya

Barakallah 4u all

Friday, October 23, 2020

CERITA ANGGREK: MENCOBA TRITMEN BARU MENAKLUKKAN JEWEL ORCHID DI DATARAN RENDAH

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dulu g pernah berhasil mengadaptasikan Jewel Orchids di dataran rendah yang panas, yang mana suhu tertinggi pernah mencapai 370 C. Penyebabnya hanya satu: busuk.

 

 Sebenarnya sudah tahu cara-cara menghindarkan kasus over watering. Namun ada hal-hal yang tidak diduga ternyata juga masih membuat masalah media basah, yakni terpercik air siraman.

Meski memang tidak berniat untuk menyiram anggrek-anggrek Permata, namun percikan air slangnya tetap mengenai media dan membuat medianya selalu basah. Bukan lagi lembab, tetapi basah.

Jadi beberapa minggu lalu, sewaktu di kios anggrek banyak pilihan Jewel Orchids, tanpa pikir panjang, dibelilah beberapa pot. Apalagi musim juga pas, awal musim hujan, yang mana perbedaan suhu antara dataran tinggi dengan rendah tidak selebar pada musim panas.

Jewelnya ada Macodes, Anoectochilus, Nephelaphyllum, dan dua genus yang belum ketahuan (lupa hehehe). Selain itu juga beli seplant Paphiopedilum javanicum. Daun bercorak memang masih menjadi tantangan buat saya.

 

Begini cerita kronologisnya.

  • Asal anggrek dtt, lebih dari 1500 mdpl
  • Media bawaan: tepung/serbuk bata merah, serbuk sabut/cocopeat, moss hitam, kohe kelinci dengan toping moss ijo (hidup). Namun tidak semua pot seperti itu. Ada yang medianya mix 2 atau 3, random pula.
  • Rencananya memang diangin-anginkan terlebih dulu barang 3 hari hingga seminggu dari kedatangan agar bisa beradaptasi dengan suhu barunya. Namun rencana ini berubah karena medianya tampak basah sekali. Mungkin habis disiram atau terkena hujan. Jadi, besuknya langsung dibongkar semua.
  • Semua anggrek direndam larutan B kompleks dari IPI (adanya ini ya, karena sepanjang pandemi hampir semua vitamin ludes terjual), selama kurang lebih ½ jam. Tanpa rendam vitamin B1 pun sebenarnya juga tak mengapa. Anggrek juga tidak direndam fungisida ataupun insektida. Kalau temans ingin memakainya ya mangga, silahkan saja.
  • Media saya peras untuk mengurangi kadar air. Jangan sampai kering ya karena Jewel Orchids memang lebih suka lembab. Pengurangan ini dimaksudkan agar tingkat kebusukan bulb lebih rendah.
  • Media tanam disusun kembali. Hanya saja paling bawah saya tambahkan pecahan batu bata atau genting. Gunanya untuk menghindari air berlebih. Kemudian dijemur selama ½ jam saja.
  • Penjemuran (sebenarnya yang tepat penganginan) jangan sampai media kering karena akan membuat anggrek tambah stress.
  • Tanam kembali jewelnya. Hanya saja saya beri jarak tanam antar plant (satu pot isi 2-3, kecuali yang berukuran besar 1 pot 1 plant). Khawatirnya kalau busuk akan menular ke lainnya. Kalau punya stok pot berlebih, sebaiknya memang satu pot satu plant. Boleh juga pakai cup bekas.
  • Menggunakan semi WCO pasang surut
Pot diletakkan pada nampan, kemudian diisi air secukupnya. Jadi kapasitas air memang tidak tinggi atau banyak. Tujuannya hanya supaya air merembes ke atas (daya kapiler) saja namun kelembaban tetap terjaga. Jadi pot memang tidak disiram, dan juga tidak dispray.
  • Indoor
Sehari selama beberapa jam pada pagi hari dalam satu minggu, nampan (beserta semua pot ya) dikeluarkan tetapi masih dalam naungan atap. Diangin-anginkan plus mendapat sinar matahari pagi. Jangan sampai panas betul ya, bisa gosong nanti.
  • Untuk menjaga lumut tetap hidup, saya hanya siram pake alat suntik (kalau beli tinta printer pasti ada). Sekedarnya pula. Daun juga dikenakan air walau hanya sekedar lewat (g basah2). Sehari sekali, terkadang juga 2 kali.
  • Pada nampan diletakkan irisan bawang putih. Harapannya supaya bakteri atau spora-spora fungi bisa mati. Namun juga agak deg2an juga khawatir berefek buruk pada lumut dan Jewel. Tetapi saya nekad hehehe.
  • Satu plant saya coba WCO full (rendam dalam air). Namun karena di masa panjang nanti dia juga akan adaptasi lagi ke media tanam konvensional, akhirnya hari ini WCO saya batalkan. Plant saya pindah ke pot bersama ‘teman lamanya’ hehehe
  • Hasilnya: beberapa plant mati (sudah siap mental karena memang kondisi @ plant beda2), ada yang muncup2 (belum tahu daun, akar, ataukah tunas baru), ada yang menggeliat menuju proses berbunga (dari sananya memang sudah spike tetapi masih tidak terlihat calon bud sama sekali), daun2 banyak yang mengering (saya sadari benar hal ini).

Nah, itulah tritmen baru untuk menaklukkan Jewel Orchids di dataran rendah. Semoga bisa berhasil. Berkaca pula pada pengalaman-pengalaman dan kegagalan yang tlah lalu.

 




 

Barakallah 4u all

Wednesday, October 21, 2020

CERITA ANGGREK: Penasaran Seedpod Dendrobium aphyllum

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dendrobium aphyllum termasuk anggrek mula yang saya koleksi. Tidak beli sih.

Ceritanya sewaktu jalan pagi, saya melihat onggokan anggrek di depan rumah tetangga. Meski diletakkan/dibuang di pinggir jalan, yang artinya kita boleh ngambil tanpa bilang sama yang punya rumah, namun saya tidak melakukannya.

Saya pun masuk dan meminta pada tuan rumah untuk membawa anggrek yang telah dibuang itu. Diperbolehkan. Alhamdulillah.

Teryata tidak hanya aphyllum saja lho. Banyak juga potongan bulb anosmum. Karena memang banyak, ya kedua jenis inilah yang terbanyak di kebun saya. Lainnya adalah Oncidium Golden Shower yang memang telah puluhan tahun hadir di kebun kami. Lainnya lagi ada Anggrek Asem (Aerides odorata). Meski telah beberapa kali dipotong, alhamdulillah masih lumayan banyak.

Nah … meski udah lama berada di kebun, saya tidak pernah tahu gimana sih bentuk seedpod/buah dari aphyllum. Karena penasaran, beberapa bulan lalu saya pun memaksanya untuk berbuah. Caranya dengan membantu polinasi/penyerbukannya.

Ada dua kuntum yang saya serbuki silang. Artinya Kuntum A menyerbuki atau benang sarinya untuk Kuntum B. Begitu sebaliknya. Yang berhasil hanya satu. Alhamdulillah, tiada mengapa, yang penting saya tahu bagaimana sih bentuk seedpod dan menumpas habis rasa kepenasaran saya.

Dan … tralala inilah ternyata tampang buah si aphyllum.

 

 


 Barakallah 4u all

Tuesday, October 20, 2020

SERI HEWAN DAN ANGGREK (16): SIPUT TELANJANG (SLUG)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada musim hujan, serangan aneka siput (familia Gastropoda) semakin merajalela. Mereka menyerang akar, tunas, pucuk, atau keiki yang masih muda. Dan tak pilih-pilih jenis anggreknya. Istilahnya sikat semua. Salah satunya adalah Siput Tanpa Cangkang.

 

 

Identitas:

  • Laevicaulis alte
  • Sinonim: Vaginula alte; Vaginulus alte
  • Slug, Nakedsnail, Snail Naked, The Tropical Leatherleaf, The Leatherleaf Slugs
  • Siput Telanjang
  • Jiboh, Jenggel, Klelet, Res Ires Poh, Bacang Seiris, Klicak, Sarasinula, Rerespo
  • Vaginula blekeeri dikenal sebagai hama tanaman anggrek

Siput ini sangat elastis, berlendir, warna permukaan tubuh/punggung seperti kulit, ukuran dewasa mencapai 8 cm. 

 

Karakter

  • Nocturnal – berkeliaran dan mencari makan pada malam hari
  • Polifag – mangsa/makanannya beraneka macam/jenis. Selain anggrek, juga menyerang sayur-sayuran atau tanaman buah-buahan yang masih muda atau terkadang juga sampah organik.
  • Bersembunyi dalam tempat-tempat yang lembab dan terlindung dari sinar matahari, seperti dibalik sampah, tumpukan batu atau bata, dan lainnya, saat pagi hari menjelang. Anggrek yang bermedia pot, biasanya siput bersembunyi pada media bagian bawah.
  • Terestrial – hidup dalam tanah, walau terkadang juga banyak dijumpai mereka memanjat tembok, pohon, kayu, atau lainnya untuk mencari makan.

 

Tanda-tanda kehadiran mereka:

  • Pucuk akar, daun, atau tunas menghilang hanya semalam.
  • Terdapat jejak-jejak berupa lendir yang telah mengering berwarna putih keperakan. Kalau bisa hapuslah jejak itu agar tidak mengundang teman-temannya.
  • Penampakan siput itu sendiri.

 

Pencegahan:

  • Intensitas dan waktu penyiraman diperhatikan agar populasi mereka tidak semakin banyak. Penyiraman yang sering semakin disukai mereka karena kelembaban terus terjaga. Di sisi lain, anggrek termasuk tumbuhan sukulen yang tahan tidak disiram selama beberapa hari. Bagi yang tinggal di dataran bersuhu panas, sebaiknya memilih media yang mampu menahan kelembaban agak lama seperti moss, akar kadaka, serat sabut kelapa dan lain-lain supaya penyiraman bisa dijarangkan.
  • Sebisa mungkin sinar matahari menuju tanah tidak terhalang.
  • Membuat area/blok anggrek sesuai karakternya. Selain memudahkan penananganan juga meminimalisir penyiraman. Bulbophyllum yang memerlukan kelembaban tinggi dan anggrek lain yang bermedia menyerap air dan menahan kelembaban seperti moss dapat disatukan dalam satu blok/area.
  • Jagalah agar kebun/taman Anda dalam keadaan kering.

 

Penanganan:

  • Sidak mereka pada malam hari dengan memakai lampu, senter atau headlamp. Ambil dengan penjepit atau tusuk dengan lidi/bekas tusuk sate. Masukkan pada wadah. Bisa diberi garam atau melemparkannya pada unggas.
  • Jerat/undang dengan memakai makanan kesukaan seperti tunas-tunas muda bayam atau kangkung atau wadah-wadah sebagai tempat sembunyi mereka. Dengan begitu kita lebih mudah untuk menangkapnya.

 

Tips tambahan sebagai pencegahan:

  • Penyiraman, pemupukan, dan pemberian sida dilakukan pada pagi hari, sehingga tanah akan mengering sebelum malam tiba. Jadi, memang menghindari tritmen anggrek pada malam hari. Bila memang sudah terbiasa seperti itu, temans harus lebih rajin-rajin lagi sidak siput dan memasang jebakannya.
  • Membuat sistem infus pada anggrek atau irigasi tetes (drip irrigation system), yakni cara penyiraman dengan meneteskan air melalui pipa-pipa berlubang yang dipasang di sekitar tanaman. Bisa juga dengan memakai botol yang dibalik, tutup diberi lubang, sehingga air menetes perlahan.
  • Bersih atau jauhkan sampah, puing-puing, dan pangkaslah rumput secara teratur.
  • Pisahkan tanaman dengan jarak cukup jauh sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi udara.

 

Predator/Pemangsa:

  • Kumbang Tanah
  • Burung atau unggas. Namun rasa-rasanya memang tidak efektif.
  • Kodok Bangkong/Bullfrog Rana tigrina

Cara-cara di atas juga dapat kita lakukan pada siput lain yang memiliki karakter yang sama. Kita tahu bahwa siput telanjang tidak hanya satu genus saja, tetapi genus lainnya juga banyak.

Barakallah 4u all


 

Sunday, October 18, 2020

TIPS MENJAGA KELEMBABAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada musim hujan, kita g perlu bingung dengan kelembaban yang dibutuhkan anggrek.

Namun, bagaimana pada musim panas?

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelembaban pada batas minimal 60%.

 

Walaupun kebutuhan humidity setiap anggrek beragam, namun kita dapat mematok kelembaban pada level 60% sebagai batas terendah.


Cara untuk mengetahui prosentase humidity sangatlah gampang. Sekarang ini kita g perlu beli alat khusus pengukur kelembaban (humidity meter), tetapi cukup melihat pada platform android saja. Namun untuk berjaga-jaga, kita perlu mengurangi sampai 5 persen supaya aman karena angka yang tertera di sana umumnya rata-rata pada suatu wilayah. Apalagi bagi yang tinggal di area yang panas, mungkin mengurang sampai 10 angka. Dengan begitu kita akan bekerja lebih keras untuk menaikkan tingkat kelembaban kebun kita.

Tingkat kelembaban juga dapat kita lihat pada internet. Caranya ketik humidity day diikuti nama tempat/kota kita tinggal.

Oh, ya, bagi temans yang tinggal di dekat sungai atau sumber air lainnya, tidak perlu bingung-bingung memikirkan kelembaban yaa ... alhamdulillah, disyukuri saja 😃. 

Kebun yang berdekatan dengan sungai atau sumber air lainnya tidak perlu bingung memikirkan kelembabannya

Cara atau langkah menjaga kelembaban:

  • Menanam pohon. Pohon juga dapat kita gunakan sebagai tempat menempel anggrek.

Pohon selain sebagai penahan kelembaban juga sebagai media tempel anggrek
  • Memperbanyak tanaman, boleh anggrek, tanaman hias lain atau sayur-sayuran atau bahkan semuanya hehehe.
  • Meletakkan di kebun wadah berisi air. Bila sudah berlumut atau ada jentik-jentik nyamuk siramkan pada anggrek sebagai pupuk. Ganti dengan air baru. Begitu seterusnya.
Wadah air dapat kita tanami sayur-sayuran atau untuk memelihara ikan

  • Menyiram. Kalau ini memang sudah kebutuhan dan kewajiban kita kan ya sebagai pemilik anggrek?
Pada hari puasa penyiraman, kita dapat menyiram lantai kebun dengan air bekas (cucian baju, piring, mandi, wudlu, dan sebagainya)
  • Menutup lantai kebun dengan rumput-rumputan
  • Memilih media yang menyerap air dan menahan penguapan seperti moss, akar kadaka, sabut kelapa, dan lain-lain. Namun cara ini tidak bisa dipukul rata. Harus disesuaikan dengan karakter anggrek, cara dan intensitas penyiraman yang kita lakukan, tinggi rendahnya suhu kebun, dan lainnya.
  • Membuat kolam. Keuntungannya air kolamnya dapat dijadikan pupuk alami untuk anggrek dengan kandungan yang luar biasa.
  • Membuat green house. Memang tidak semua mampu membuatnya.

 

Indikasi kebutuhan kelembaban terjaga:

  • Muncul/tumbuhnya alga pada media anggrek.
  • Muncul/tumbuhnya lumut-lumut dan tumbuh-tumbuhan penyuka lembab di kebun kita.
Lumut dan tumbuh-tumbuhan penyuka lembab sebagai indikator tingginya kelembaban kebun

  • Muncul/tumbuhnya paku-pakuan. Walaupun tidak bisa dijadikan patokan pasti, karena paku-pakuan ada yang tahan panas, tetapi tidak ada salahnya pula memakai paku-pakuan sebagai indikator kelembaban.
Paku-pakuan sebagai indikator tingginya kelembaban kebun

Walaupun begitu, sayangnya kelembaban yang tinggi juga disukai jamur/fungi dan hama siput. Nah, lho…..!!!! hehehe







 

Barakallah 4u all