Sunday, November 28, 2021

KHAZANAH ANGGREK INDONESIA: Brachypeza pallida (Blume) WANGINYAAA

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

Karakter dan morfologinya dekat dengan Phalaenopsis alliance. Namun sebelumnya pernah dimasukkan ke dalam genus Aerides, Dendrocolla, Sarcochilus, dan Thrixspermum. Pernah juga menjadi member genus Phalaenopsis.

Kemudian, terkenal dengan nama Pteroceras pallidum atau The Pale Pteroceras.

Namun, pada tahun 2014 Kocyan & Schuit mengganti namanya menjadi Brachypeza pallida (Blume) yang dipublish di Netherlands National Herbarium Website dan Flora Malesiana Vol III.

Karena sebenarnya namanya tidak saling bertentangan, maka kita boleh memakai nama yang mana saja, apakah Pteroceras pallidum atau Brachypeza pallida.

 

 

Informasi Spesies

  • Monopodial epifit, plant kecil.
  • Bulb tertutup seludang daun, hingga tak nampak, kecuali apabila telah memanjang.
  • Daun dan plant memang mirip Anggrek Bulan dengan ukuran yang lebih kecil. Di kebun BPG daunnya tampak lemas/lunglai tapi sebenarnya kaku.
  • Akar putih kehijauan, miskin cabang, morfologi khas anggrek monopodial
  • Menyukai kondisi ternaung namun cukup terang
  • Memiliki aroma harum menyengat
  • Mekar sehari
  • Diameter bunga ± 5 cm
  • Penyebaran: Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, Philipina
  • Habitat: hutan-hutan dekat pesisir dan hutan-hutan primer pada area yang cukup terbuka
  • Ketinggian habitat: 900 – 1250 mpdl
  • Akar putih kehijauan, miskin cabang,  relatif besar dan khas anggrek monopodial
  • Menyukai kondisi ternaung namun cukup terang  
  • Bisa beradaptasi dan berbunga juga di dataran rendah

 


Perawatan

  • Media: pohon, potongan kayu, papan pakis
  • Bagus digantung
  • Kebutuhan sinar medium atau ternaung
  • Penyiraman 2 hari sekali atau menyesuaikan kondisi lingkungan masing-masing
  • Pemupukan bebas. Di kebun 2tisa minimal 4 hari sekali dengan pupuk organik (limbah dapur). Kalau masih baru datang sebaiknya jangan dipupuk sampai melewati masa adaptasi.




 

Sinonim

  • Aerides pallida
  • Dendrocolla pallida
  • Phalaenopsis fugax
  • Phalaenopsis ruckerana
  • Phalaenopsis ruckeri
  • Pteroceras caligare
  • Pteroceras pallidum
  • Sarcochilus caligaris
  • Sarcochilus pallidus
  • Thrixspermum pallidum 
 
 

 


Barakallah 4u all

Saturday, November 20, 2021

Dendrobium crumenatum, POTENSI SEBAGAI INDUKAN YANG BELUM DILIRIK

Assalamu’alaikum sobats 2tisa

Spesies yang satu ini memang belum banyak dikultivasi secara serius, padahal potensinya sangat besar. Rupa-rupanya para pemulia belum bisa mentolerir kelemahan-kelemahannya.

Bunganya yang sangat harum dan kuat bisa dijadikan industrisasi parfum.

 

 

Sedangkan kelebihan-kelebihan yang dapat dijadikan sebagai indukan antara lain:

  • Bunga wangi kuat
  • Warna sepal petal putih bersih dan glossy, apalagi bila tertimpa sinar matahari nampak jelas sekali
  • Tumbuh mekar bergantian dari mata tangkai kuntum yang sama
  • Karakter tahan banting dan sangat mudah dirawat
  • Adaptasi di level daratan apapun
  • Mudah berkeiki dan/atau bertunas
  • Harga juga masih terjangkau, bahkan murah (sekali)

Sedangkan kelemahannya meski sedikit tetapi levelnya memang relatif tinggi, sehingga para pemulia belum bisa memakluminya, seperti:

  • Mekar singkat (sehari)
  • Sais bunga termasuk kecil - medium
  • Dalam satu tangkai hanya terdiri dari 1 – 2 kuntum

Jalan keluar dari masalah ini memang menyandingkan dengan anggrek bertipe bunga besar dan awet mekarnya seperti seksi Phalaenanthe dan/atau Spatulata.

Risikonya adalah bunga yang mekar tetap sedikit, tetapi relatif lebih awet dibanding sebelumnya yang hanya sehari.

Paling ideal memang dari seksi yang memiliki karakter dekat, seperti seksi Nobile yang memiliki bunga berdiameter relatif besar dan labellum yang ‘seksi’.

Selain itu, kendalanya pada memperkirakan usia matang pollen yang ‘hidup’nya hanya beberapa jam saja.

Dari informasi, baru ada dua hibrid yang berindukkan Anggrek Merpati ini, yakni Dendrobium Sekarpuro (Dendrobium faciferum x  Dendrobium crumenatum) dan Dendrobium Kiat Tan (Dendrobium victoriae-reginae × Dendrobium crumenatum)

 



  Barakallah

Sunday, November 14, 2021

KHAZANAH ANGGREK INDONESIA: Liparis condylobulbon Rchb.f., Hamburger

Assalamu‘alaikum sobats 2tisa

 

Tentang anggrek ini …

Spesies:

Liparis condylobulbon Rchb. f. 1862

Section:

Blepharoglossum

Subgenus:

Cestichis

Nama Internasional:

The Tapered Sphinx Orchid

Nama Indonesia:

Anggrek Gajang

Sinonim:

  • Cestichis clemensiae
  • Cestichis condylobulbon
  • Cestichis dolichopoda
  • Cestichis persimilis
  • Cestichis vestita
  • Gyrostachys nesophila
  • Leptorchis condylobulbon
  • Liparis amboinensis 
  • Liparis clemensiae
  • Liparis condylobulbon
  • Liparis confusa
  • Liparis confusa var. amboinensis
  • Liparis confusa var. papuana 
  • Liparis confusa var. latifolia/Java 
  • Liparis dolichopoda 
  • Liparis flaccida
  • Liparis nesophila
  • Liparis persimilis
  • Liparis riparia
  • Liparis savaiiensis
  • Liparis treubii
  • Stichorkis condylobulbon
  • Stichorkis persimilis

 

Etimologi

Berasal dari bahasa Latin liparos yang artinya berminyak/mengkilap, yang mengacu pada permukaan daun yang mengkilap.
 


Ekologi

Tipe Tumbuh:

Epifit, litofit, dan kemungkinan bisa tumbuh secara terestrial, walaupun jarang

Habitat:

hutan primer atau sekunder, hutan dataran rendah dan hutan pegunungan , bebatuan lembab

Elevasi:

50 – 1.800 m dpl

Sebaran:

Indonesia (Kalimantan, Papua, Sulawesi, Sumatra, Jawa, Lesser Sunda Islands / Nusa Tenggara, Maluku)

Fiji

Myanmar

New Caledonia

New Guinea

Philippines

Australia

Solomon Islands

Taiwan

Thailand

Vanuatu

Vietnam

 

Perawatan dan Agroklimat

Media:

Di kebun 2tisa diikat pada pohon karena sewaktu pertama datang belum tahu banyak tentang karakternya

Pupuk:

Jarang dipupuk menempel pada pohon dengan ketinggian sekitar 2 m.

Plant anggrek yang masih anget dari hutan/habitat liar g boleh dipupuk sama sekali

Penyiraman:

2 hari sekali pada pagi hari, sama seperti anggrek lainnya

Suhu:

Hangat sampai sejuk (dataran rendah hingga tinggi)

Cahaya:

Teduh hingga terang (masih mendapatkan sinar matahari pagi atau sore beberapa jam)

Kelembaban:

Kelembaban relatif tinggi, karena itu jaga kestabilan prosentasenya (minimal 70%)

Sirkulasi Udara:

Konstan/lancar

Perkembangbiakan:

Vegetatif dengan pemisahan bulb/rumpun

Generatif dengan penyebaran atau kuljar biji

 

Bunga

Perbungaan/inflorescence tegak, menyangga 15 – 35 kuntum bunga berwarna hijau pucat dan glossy.

Diameter ± 6 mm, bentuk seperti burung dara yang membusungkan dadanya atau seperti ayam serama. Orang bule menyebutnya seperti spinx runcing.

Sepal petal kuning muda

Lip berwarna kuning hingga oranye

 

Daun

Dua helai, tipis memanjang, ujung lancip/menyempit, permukaan mengkilap, panjang 9,5 – 15 cm

 

Bulb

Tegak, permukaan mengkilap, saling merapat/berdempetan, bentuk laksana tabung/silinder melebar/tebal pangkalnya dan menyempit ujungnya, panjang 2,5 – 4 cm dengan rhizome merayap/menjalar.

 

Fun Fact

Pertama kali dipublikasikan di Hamburger Garten- Blumenzeitung 18: 34 (1862). Dideskripsi oleh Heinrich Gustav Reichenbach.

Di Sulawesi anggrek ini dipercaya dapat melancarkan buang air besar dan meredakan perut kembung dengan cara mengunyah pseudobulb muda dan menggosokkan daun anggrek yang dipanaskan pada perut.

Tidak termasuk anggrek langka. Populasi di alamnya masih menggembirakan, meski tak banyak yang mengoleksinya. Yah, karena bunganya memang mungil.

Belum dibudidayakan sebagai indukan penghasil anggrek hibrid.


Barakallah 4u all