Tuesday, March 15, 2022

KHAZANAH ANGGREK INDONESIA: Agrostophyllum cyathiforme J.J.Sm., ANGGREK KORAL

Assalamu‘alaikum anggrekers 2tisa

Penampilan memang mirip rumput. Dengan bentuk bunga yang dianggap tidak begitu menarik, membuatnya lupus dari eksploitasi. Jadi populasinya tidak mengkhawatirkan.

Meski seperti itu, ternyata mengadaptasikannya di dataran rendah tidak mudah. Disarankan bagi pecinta anggrek pemula tidak membelinya.

 


= Sinonim =

·        Agrostophyllum arundinaceum

·        Agrostophyllum cyathiforme var. sumatranum

= Sinonim Genus =

  • Diploconchium
  • Chitonochilus
  • Appendiculopsis

 

= Sebaran =

  • Jawa
  • Kalimantan
  • Sumatra
  • Malaysia (Peninsular Malaysia dan Sarawak)
  • Singapura
  • (Ada pula yang menyatakan hanya tersebar di Jawa, Sumatra, dan Sarawak.

 

= Nama Indonesia =

Belum punya.

Beberapa kandidat nama yang berasal dari trenslet dari bahasa Latin maupun Inggris adalah ….

  • Anggrek Bunga Karang (Coral Orchid)
  • Anggrek Koral (Coral Orchid)
Merujuk puluhan kuntumnya yang saling berdesakan dan membentuk atau tergabung dalam wadah/karangan bunga yang menyerupai mangkok atau koral.
 

  • Anggrek Polip, kuntum-kuntumnya mirip polip-polip yang melekat pada karang laut.
  • Anggrek Piala (The Cup-Shaped Agrostophyllum)
  • Anggrek Bokor (The Cup-Shaped Agrostophyllum)
  • Anggrek Mangkok (The Cup-Shaped Agrostophyllum)
Karangan bunga (inflorescence)nya serupa mangkok, atau bokor, atau piala.
  • Anggrek Rumput (Agrostophyllum). Agrostis (rumput) dan phyllon/phyllum (daun)

Rasanya nama Anggrek Koral lebih pas ya, karena kemiripannya lebih riil dengan koral laut. Selain gampang diingat, juga belum ada anggrek lain yang memiliki nama ini. 

 


 

= Habitat =

  • Hutan-hutan hujan
  • Hutan budidaya: perkebunan karet, sawit (oil palm)
  • Menyukai area yang teduh, lembab dan basah yang terdapat banyak lumut
  • Menempel (epiphytic) pada batang pohon atau percabangannya yang agak terbuka atau kanopi pohon inangnya tidak rapat
  • Pohon Inang: Bendo (Artocarpus elasticus), Sawit, atau pohon yang sudah mati dan kering.
  • Ketinggian dataran: 400 – 1600 m dpl.
  • Anggrek yang pernah hadir di kebun berasal dari ketinggian 1800 m dpl.

 

= Morfologi =

  • Simpodial.

 


  • Pseudobulb terbungkus rapat-rapat oleh seludang daun.
  • Selama hidupnya satu pseudobulb hanya berbunga sekali saja.  Setelah itu dia akan mengering dan mati digantikan individu baru (anakan).
  • Daun hijau dan kaku dengan permukaan yang mengkilap, ujung menyatu/merapat.
  • Tepian seludang daun berwana kuning dan berlis, bersusun rapat membungkus bulb. Nampak seperti sisik.

 


  • Mempunyai perakaran yang mengikat kuat pada (pohon) inangnya dan akar keras.
  • Bunga tumbuh di ujung batang bergerombol banyak, padat dan berwarna putih kotor atau kekreman dengan lips kuning muda berbentuk letter "U". Diameter kuntum 0,5 – 0,7 cm. Diameter inflorescence (karangan) bunga 3 – 4 cm. Munculnya di ujung tengah-tengah batang (apex). Masa mekar 2 – 4 minggu. Uniknya, arah inflorescence (karangan bunga) berlawanan dengan arah tumbuh daun atau dengan kata lain karangan bunga tumbuh ke belakang.

 

 

= Similar Flower =

Agrostophyllum lampongense

 

Catatan:

  • Jawa Tengah menurut Comber, bukan termasuk daerah distribusi.
  • Kriteria dalam Red List IUCN: ”Beresiko rendah” (Least Concern; LC), “Informasi kurang” (Data Deficient; DD)
  • Genus Agrostophyllum mampu melakukan self-pollination (penyerbukan sendiri) tanpa bantuan makhluk atau benda lain.
  •  Genus Agrostophyllum masih hanya sebagai ornamental plant dengan potensi sebagai anggrek hortikulturata (memiliki potensi diperdagangkan) yang sangat rendah. Belum diketahui kemanfaatannya secara medis maupun lainnya. Tidak termasuk jenis langka maupun anggrek favorit.
  • Semua anggrek Indonesia tetap tidak boleh diperdagangkan antarnegara secara sembarangan.
  • Supaya bisa beradaptasi plant harus benar-benar dalam kondisi prima dan dibawa beserta medianya. Kemudian tidak disiram atau terkena air selama beberapa minggu agar anggrek fokus untuk adaptasi terhadap perbedaan kondisi agroklimat di tempat barunya.

  


Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

KHAZANAH ANGGREK INDONESIA: Bulbophyllum mutabile [Bl.] Lindl.

Assalamu‘alaikum sobats 2tisa

Dideskripsi tahun 1830 oleh Blume.

 


 

»» Sinonim

  • Bulbophyllum altispex
  • Bulbophyllum ceratostyloides
  • Bulbophyllum illudens
  • Bulbophyllum mutabile var. ceratostyloides
  • Bulbophyllum mutabile var. mutabile
  • Bulbophyllum mutabile var. obesum
  • Bulbophyllum pauciflorum
  • Bulbophyllum pokapindjangense
  • Bulbophyllum semipellucidum
  • Callista brachypetala
  • Dendrobium brachypetalum
  • Diphyes mutabilis
  • Phyllorchis mutabilis
  • Phyllorkis mutabilis

Section: Stachysanthes

 

»» Persebaran

  • Sumatra
  • Jawa
  • Bali (tidak semua sumber mengatakannya)
  • Nusa Tenggara (tidak semua sumber mengatakannya)
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Malaysia (Semenanjung, Sabah)
  • Philipina
  • Thailand

 

»» Elevasi

1.100 – 2700 m dpl

Di kebun 2tisa anggrek berasal dari Jawa Timur pada ketinggian 1.800 mdpl.

Alhamdulillah mau adaptasi dan berbunga, walau sekarang sudah RIP.

 

»» Habitat

Menempel pada pepohonan di hutan-hutan yang berkelembaban tinggi. 

 

 

»» Morfologi

  • Rimpang mendatar hingga agak tegak
  • Permukaannya tampak coklat kering, hingga kita sering mengiranya plant telah mati, padahal sebenarnya tidak.
  • Pada rimpangnya bisa tumbuh bulb baru. Bisa juga muncul tangkai bunga.
  • Bulb berukuran kecil (meski ada juga yang besar) dan hampir-hampir tak kelihatan. Berkelatan satu sama lainnya dalam rimpangnya, sehingga nampak seperti bercabang-cabang.
  • Jarak ruas (internode) pseudobulb 5 mm – 1,5 cm.
  • Hanya satu helai daun dengan permukaan mengkilap, serta tampak gemuk dan tebal. Bentuk lonjong atau elips dengan ujung tumpul. Tetapi ada juga yang berdaun lebih tipis dan lebih lebar. Tidak semua bulb memiliki akar, hanya bulb tua yang memilikinya. Sais akar termasuk besar untuk sekelas Bulbophyllum. Jumlahnya hanya beberapa utas saja. 
  • Tangkai bunga muncul dari pangkal daun. 1 – 2 kuntum bunga. Umumnya memang 2 kuntum.
      
  • Diameter bunga sekitar 3 mm (mekar sempurna) dengan lama mekar 2 – 3 hari.
  • Warna labellum lebih kuat dibanding sepal dan petalnya. Sepal lebih panjang dibanding petal.
  • Seperti Bulbophyllum lainnya, berbunganya juga tidak kenal musim (sepanjang tahun).
  • Belum dijadikan sebagai indukan penting. Mungkin disebabkan karena ukuran bunganya yang mungil dan memang tidak tampak semarak.

 

 

»» Agroklimat dan Kultivasi

  • Temperatur: 18 – 30 °C
  • Kelembaban: 70 – 80%
  • Sirkulasi udara: lancar
  • Sinar: teduh
  • Penyiraman: sesuai kebutuhan (disesuaikan dengan karakter media dan kondisi lingkungannya). Di kebun 2tisa semua mendapat penyiraman yang sama yakni 2 hari sekali pada musim panas.
  • Media: bebas asalkan ada media tanam yang menyerap kelembaban lebih lama. 2tisa sekarang ini lebih cocok memakai papan pakis yang ditambahkan moss hitam (akar kadaka) pada sekeliling rumpunnya.
  • Perbanyakan dapat dilakukan dengan memecah rumpunnya @ 3 – 4 pseudobulbs.

 

»» Keunikan

  • Dinamakan mutabile karena warna sepal dan petalnya dapat berubah dari kehijauan menjadi oranye. Dari sinilah mendapat nama internasionalnya, The Variable Bulbophyllum. Boleh juga dibilang The Variative Bulbophyllum.
  • Bulbo ini memang mempunyai banyak variasi. Mulai dari ujung lip hingga ujung akarnya berbeda-beda antar plant satu dengan lainnya atau antar daerah asalnya.
  • Warna sepal petal banyak variasi. Putih, krem, kekuningan, kehijauan, hingga oranye. 
 

  • Ada kuntum yang dapat mekar sempurna, ada pula yang tidak.
  • Kuntum ada yang resupinate (berputar tegak lurus dengan lips pada bagian bawah) dan ada juga yang tidak/supinate atau gagal berputar.
  • Bentuk knop yang seperti cakar/paruh juga bervariasi. Ada yang ujungnya runcing, ada pula yang tumpul.  


 
  • Tangkai bunga bisa tumbuh/muncul langsung dari rimpangnya. Karakter seperti ini langka dalam genus Bulbophyllum.
  • Ukuran tanaman bervariasi, ada yang kecil mungil hingga semi small.
  • Bulb baru atau tunas anakan selain tumbuh dari pangkal bulb induk, juga dapat tumbuh dari rhizomenya. Bulbnya berukuran kecil dan terkaver (hampir) penuh oleh rhizome. Bulb baru dapat muncul dari bulb indukan yang berada di ujung rhizome atau muncul dari tengah-tengah rimpang.
 

»» Kemiripan Spesies

Bulbophyllum semipellucidum yang pernah menjadi sinonim dari Bulbophyllum mutabile. Namun sekarang telah dipisahkan ke dalam spesies tersendiri dan merupakan endemik Sumatra.

 



Di beberapa daerah, penduduk menggunakan dedaunannya sebagai jamu untuk penurun panas.

Dengan naiknya trend merawat/mengoleksi anggrek-anggrek mungil, Bulbophyllum mutabile dapat menjadi pilihan yang menawan.

 


Barakallah

 

Saturday, March 12, 2022

KHAZANAH ANGGREK INDONESIA: Dendrobium vogelsangii P. O'Byrne, ENDEMIK CELEBES

Assalamu'alaikum saudara's 2tisa

Meski berasal dari dtt, sebenarnya bisa beradaptasi di dtr. Sayangnya admin yang masih retjeh soal anggrek, akhirnya membuatnya RIP.


Endemik Sulawesi pada ketinggian 950 – 1700 m dpl dan umumnya berada di Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan.

Dideskripsi oleh Peter O'Byrne tahun 2000.

Dulu pernah disebut sebagai Dendrobium torajaense P.O'Byrne. Banyak juga yang keliru/kecele, termasuk link besar IOSPE.

Padahal secara section keduanya berbeda, yang berarti juga memiliki perbedaan ciri dan karakter.

Seperti section Formosae lainnya, Dendrobium vogelsangii juga memiliki karakter sebagai berikut:

  • Bulb diselimuti rambut-rambut halus kehitaman. Begitu juga dengan daun, terutama sisi bawah.

 

  • Bulb ramping (cane).



  • Satu tandan bunga terdiri 1 – 3 kuntum.

  • Bunga relatif besar, warna menyolok/cemerlang, permukaan mengkilap, dan lama mekarnya. 
 
Diameter bunga Dendrobium vogelsangii antara 4 – 5 cm. Sepal petal putih solid dan waxy. Terdapat corak kuning padalabellumnya.
 




 

 = Karakter Tumbuh =

Epifit simpodial (ada juga yang bilang ditemukan secara terestrial), photoautotroph (mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, pada arti sederhana mampu memasak sendiri dengan bantuan sinar matahari)

Meski keren, namun 2tisa belum menemukan hibridnya. Kendalanya adalah minimnya jumlah kuntum bunga. Selain itu barangkali belum ada seksi lain yang cocok.

Ayo gaskeun, mumpung masih sepi breeder yang melirik seksi ini!

 

= Populasi = 

Sepertinya memang tidak banyak di habitatnya. Bahkan jauh-jauh hari Peter O'Byrne telah melaporkan efek burut akibat dari kerusakan hutan, utamanya berubahnya fungsi menjadi hutan produksi.

Fire damaged forest, Central Sulawesi, July '03, 2001 photos and text by Peter O'Byrne