Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dulu g pernah berhasil mengadaptasikan Jewel Orchids di dataran rendah yang panas, yang mana suhu tertinggi pernah mencapai 370 C. Penyebabnya hanya satu: busuk.
Sebenarnya sudah tahu cara-cara menghindarkan kasus over watering. Namun ada hal-hal yang tidak diduga ternyata juga masih membuat masalah media basah, yakni terpercik air siraman.
Meski memang tidak berniat untuk menyiram anggrek-anggrek Permata, namun percikan air slangnya tetap mengenai media dan membuat medianya selalu basah. Bukan lagi lembab, tetapi basah.
Jadi beberapa minggu lalu, sewaktu di kios anggrek banyak pilihan Jewel Orchids, tanpa pikir panjang, dibelilah beberapa pot. Apalagi musim juga pas, awal musim hujan, yang mana perbedaan suhu antara dataran tinggi dengan rendah tidak selebar pada musim panas.
Jewelnya ada Macodes, Anoectochilus, Nephelaphyllum, dan dua genus yang belum ketahuan (lupa hehehe). Selain itu juga beli seplant Paphiopedilum javanicum. Daun bercorak memang masih menjadi tantangan buat saya.
- Asal anggrek dtt, lebih dari 1500 mdpl
- Media bawaan: tepung/serbuk bata merah, serbuk sabut/cocopeat, moss hitam, kohe kelinci dengan toping moss ijo (hidup). Namun tidak semua pot seperti itu. Ada yang medianya mix 2 atau 3, random pula.
- Rencananya memang diangin-anginkan terlebih dulu barang 3 hari hingga seminggu dari kedatangan agar bisa beradaptasi dengan suhu barunya. Namun rencana ini berubah karena medianya tampak basah sekali. Mungkin habis disiram atau terkena hujan. Jadi, besuknya langsung dibongkar semua.
- Semua anggrek direndam larutan B kompleks dari IPI (adanya ini ya, karena sepanjang pandemi hampir semua vitamin ludes terjual), selama kurang lebih ½ jam. Tanpa rendam vitamin B1 pun sebenarnya juga tak mengapa. Anggrek juga tidak direndam fungisida ataupun insektida. Kalau temans ingin memakainya ya mangga, silahkan saja.
- Media saya peras untuk mengurangi kadar air. Jangan sampai kering ya karena Jewel Orchids memang lebih suka lembab. Pengurangan ini dimaksudkan agar tingkat kebusukan bulb lebih rendah.
- Media tanam disusun kembali. Hanya saja paling bawah saya tambahkan pecahan batu bata atau genting. Gunanya untuk menghindari air berlebih. Kemudian dijemur selama ½ jam saja.
- Penjemuran (sebenarnya yang tepat penganginan) jangan sampai media kering karena akan membuat anggrek tambah stress.
- Tanam kembali jewelnya. Hanya saja saya beri jarak tanam antar plant (satu pot isi 2-3, kecuali yang berukuran besar 1 pot 1 plant). Khawatirnya kalau busuk akan menular ke lainnya. Kalau punya stok pot berlebih, sebaiknya memang satu pot satu plant. Boleh juga pakai cup bekas.
- Menggunakan semi WCO pasang surut
- Indoor
- Untuk menjaga lumut tetap hidup, saya hanya siram pake alat suntik (kalau beli tinta printer pasti ada). Sekedarnya pula. Daun juga dikenakan air walau hanya sekedar lewat (g basah2). Sehari sekali, terkadang juga 2 kali.
- Pada nampan diletakkan irisan bawang putih. Harapannya supaya bakteri atau spora-spora fungi bisa mati. Namun juga agak deg2an juga khawatir berefek buruk pada lumut dan Jewel. Tetapi saya nekad hehehe.
- Satu plant saya coba WCO full (rendam dalam air). Namun karena di masa panjang nanti dia juga akan adaptasi lagi ke media tanam konvensional, akhirnya hari ini WCO saya batalkan. Plant saya pindah ke pot bersama ‘teman lamanya’ hehehe
- Hasilnya: beberapa plant mati (sudah siap mental karena memang kondisi @ plant beda2), ada yang muncup2 (belum tahu daun, akar, ataukah tunas baru), ada yang menggeliat menuju proses berbunga (dari sananya memang sudah spike tetapi masih tidak terlihat calon bud sama sekali), daun2 banyak yang mengering (saya sadari benar hal ini).
Nah, itulah tritmen baru untuk menaklukkan Jewel Orchids di dataran rendah. Semoga bisa berhasil. Berkaca pula pada pengalaman-pengalaman dan kegagalan yang tlah lalu.
Barakallah 4u all




No comments:
Post a Comment