Tuesday, January 31, 2023

KALIMANTAN, THE ISLAND ORCHIDS (1) TENTANG PRAKATA DAN KEISTIMEWAAN

Assalamu’alaikum sahabats 2tisa

 


 

 

Prakata

Awalnya seri ini ingin diberi judul “Orchids of Borneo”. Tetapi karena sudah banyak yang memakainya, dan pula khawatir kalau-kalau ada yang klaim, diubah jadi “Kalimantan dan Anggreknya”, terinspirasi sebuah buku dengan judul yang panjang memakai kata-kata yang apa adanya. Tetapi akhirnya dipilih judul “Kalimantan, the Island Orchids” dengan maksud supaya lebih ada perhatian dari khalayak. Utamanya para penganggrek dari Kalimantan kian giat melakukan konservasi, in maupun ex-situ.

Membaca, copy-paste, mengedit dan kemudian menyusunnya kembali menjadi tulisan yang berbeda dari aslinya, banyak menghadirkan kejutan-kejutan dan sekaligus kekaguman atas keunikan-keunikan atau keistimewaan-keistimewaan tentang anggrek di Kalimantan maupun kekayaan alam lainnya.

 

Keistimewaan

Keistimewaan I

Pulau Borneo tak hanya luas, tetapi kekayaan alamnya juga luar biasa. Flora-faunanya fantastif dan merupakan bagian dari plasma nutfah Malesian Flauna. Nggak mengherankan disebut sebagai pulau megadiversitas.

Estimasi anggrek menurut Chant et.al (1994) antara 2500 – 3000 jenis atau 75% dari tumbuhan anggrek Malesian dan sekitar 30-40%-nya merupakan anggrek endemik, baik yang tumbuh secara epiphytically, terrestrially, saprophytically, plus mycoheterotrope. Betapa kayanya! G heran (pernah) mendapat julukan Pulau Anggrek (Orchid Island).

Genus Bulbophyllum memiliki spesies terbanyak sedunia berada di Kalimantan! Begitu juga dengan genus lain juga merupakan terbanyak berada di Borneo, seperti Phalaenopsis.

 

Keistimewaan II

Beberapa jenis bahkan hingga tingkat genus hanya bisa dijumpai di Kalimantan. Satu-satunya genus yang tidak ada lagi di tempat lain di kolong bumi ini adalah Paraphalaenopsis.

 

Keistimewaan III

Salah satu wilayah distribusi anggrek Borneo terunik ada pada kawasan Heart of Borneo   (HoB), yaitu kawasan konservasi hutan di Borneo yang mencakupi wilayah dari perbatasan tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam seluas 220.000 km2. Kawasan ini memiliki bermacam tipe ekosistem (Wulffraat, 2012), sehingga berpotensi memiliki keanekaragaman jenis anggrek yang tinggi. Pict at WWF.

 

wwf_indonesia_gis

 

 

Keistimewaan IV

Kekayaan anggrek Kalimantan telah diangkat ke dalam beberapa buku dari Kew dan para ahli taksonominya yang tergabung dalam the Kew & Leiden Group yang telah menerbitkan sekitar 20 volume. Buku yang sering dijadikan sebagai referensi yakni Orchids of Borneo Vol. 1 (Chan, A. Lamb, P.S. Shim, & J.J. Wood), Orchids of Borneo Vol. 2 (J.J. Vermeulen), Orchids of Borneo Vol. 3 (J.J. Wood), dan Orchids of Borneo Vol. 4 (J.J. Wood)., serta Dendrobium of Borneo (Wood 2013).

 

Keistimewaan V

Dengan taksiran luas 740.000 –  746.305 km2 yang merupakan pulau ketiga terbesar di dunia, menyebut Borneo itu menjadi susah-susah gampang, karena memiliki wilayah geografis yang dimiliki 3 negara, yakni Indonesia (Kalimantan), Malaysia (Sabah – Serawak), dan Brunei Darussalam.

Mengikuti map tempoe doeloe, ketiga wilayah negara itu memang disebut Borneo. Hanya saja karena kita fokusnya pada anggrek spesies yang dipunyai Indonesia, lagian Kalimantan merupakan wilayah terluas dari Borneo, maka pada artikel berseri tentang “KALIMANTAN, THE ISLAND ORCHIDS” tidak akan memasukkan spesies yang ada di wilayah Malaysia dan Brunei, juga Borneo Utara Britania (North Borneo) – beberapa jurnal/link memang masih menyebut North Borneo – yang sekarang menjadi negara bagian Sabah.

 

Tuesday, January 17, 2023

CERITA ANGGREK: SUASANA MENCEKAM SAAT LELES ANGGREK ===

Tidak ada seseorang pun selain diriku di jalan beraspal yang membelah hutan itu. Walau sesekali saat datang kemari ku lihat ada beberapa motor yang diparkir di tepi jalan, namun pemiliknya tidak nampak hidungnya sama sekali. Mungkin sudah jauh masuk ke dalam hutan. Entah untuk apa. Apakah berburu atau sekedar mencari pakan untuk ternak-ternak mereka. Saat ku hentikan motorku di suatu area yang ku kira banyak anggrek yang berjatuhan, terdengar suara-suara yang sangat asing bagiku. 


Walaupun ini masih logis bagi diriku untuk merasa asing atas suara-suara itu, namun rasa jeri dan khawatir tetap membuatku was-was dan deg-degan. Aku yakin tidak akan ada perampokan atau perampasan motor karena jalan masuk ke hutan ini hanya ada dua, itu pun di pintu masuk terdapat pos penjagaan. Tentunya perampok akan berpikir seribu kali untuk melaksanakan aksinya di sini, karena pintu keluarnya juga sekaligus pintu masuknya. Pasti akan ketahuan sang penjaga yang selalu siaga menjalankan tugas mereka. Aku juga bukan ngeri adanya binatang buas, karena aku yakin di hutan dari gunung yang sudah mati jarang ditemukan binatang buas semacam harimau dan anjing hutan. Kalau kucing hutan masih pernah aku temui walau dari kejauhan saja. Biasanya kucing hutan akan segera berlari menjauh bila mengendus keberadaan manusia. Sebenarnya rasa was-was dan khawatir itu tidak beralasan sama sekali. Namun aku beranggapan aku masih dalam batas-batas kenormalan karena memang aku berada di tempat yang sama sekali tidak aku kenal.

Dan mengenai suara-suara asing yang mampir ke gendang telingaku itu aku nggak tahu pasti suara apa itu. Tetapi sepertinya memang suara serangga seperti tonggeret yang selama ini aku familiar bunyinya. Tetapi yang di hutan ini bunyinya berbeda. Seperti juga ada suara ayam hutan atau burung. Mereka tidak kelihatan. Walau sesekali ada burung yang terbang dan terlihat oleh mataku, namun aku juga tidak dapat memastikan apakah suara-suara itu juga berasal dari mereka. Terkadang satu suara yang benar-benar asing bagiku terdengar keras. Beberapa saat sebelumnya aku juga terjumpa Lutung (monyet Jawa berwarna abu-abu gelap cenderung hitam yang berekor panjang) yang sedang duduk di pembatas jalan. Namun beberapa meter sebelum aku di hadapannya, dia sudah berlari menghilang ke dalam jurang. Apakah salah satunya adalah suara mereka? Sekali lagi aku juga hanya bisa menduga-duga.

Walau pun aku mencoba mengabaikan suara-suara itu dengan memfokuskan diri untuk memunguti anggrek-anggrek yang berjatuhan, namun sepertinya aku tidak dapat sepenuhnya menghalau rasa was-was itu. Meski bisa dimengerti kalau secara naluriah kita akan merasa seperti itu di tempat yang asing, namun sebenarnya kita juga tidak boleh terlalu khawatir dengan mempertimbangkan beberapa alasan yang telah aku kemukakan sebelumnya. Akhirnya, aku berusaha untuk tenggelam dalam keasyikan memunguti anggrek. 

Pada musim kemarau yang panjang, sangatlah normal bila banyak anggrek-anggrek yang terserak di lantai hutan. Dahan-dahan dan ranting-ranting yang telah mengering akan mudah patah dan jatuh dengan membawa apa saja yang menempel padanya, seperti anggrek, paku, atau lumut maupun jamur. Tentu saja kondisi seperti ini sangat menyenangkan bagi pecinta anggrek seperti aku ini, karena untuk memanjat pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi itu tidaklah memungkinkan bagiku. Aku juga telah kehilangan skill memanjat yang pernah aku miliki sewaktu masih kecil. Dan melihat anggrek-anggrek yang berserakan di lantai hutan seperti itu serasa menemukan harta karun!

Dari satu area aku berpindah ke area lain. Rasanya senang sekali apabila anggrek yang kita temukan berbeda dengan area sebelumnya atau dengan anggrek yang sudah ada di rumah. Meski sebenarnya mengasyikkan, tetapi aku tetap hati-hati dan menjaga kewaspadaanku. Aku tidak berani keluar dari area jalan beraspal karena menurutku akan berisiko. Apabila aku jatuh ke dalam jurang atau mendapat celaka lainnya, tentu akan sulit mendapatkan pertolongan. Walaupun sesekali ada penduduk atau orang yang lewat, namun tenggang waktunya tidak dapat diprediksi. Bila aku ceroboh tentu akan merepotkan orang lain. Aku tidak mau mengambil risiko itu. Jadi aku hanya memunguti anggrek-anggrek yang berjatuhan di sekitar jalan beraspal saja.

Walau rasanya nano-nano seperti itu, sepertinya aku belum merasa kapok untuk mengulang lagi pada kesempatan lain. Yuk siapa yang mau ikut? Jangan khawatir, kita tidak merusak hutan kok, hanya leles anggrek saja.

 

Wednesday, January 11, 2023

PHENOLOGY/FLOWERING TIME: Phalaenopsis amabilis (L.) Blume, 1962 – TEMPEL POHON RAJIN BERBUNGA!

Assalamu’alaikum teman-teman 2tisa

 


Doeloe …

Saat awal kenal anggrek, mendapatkan informasi kalau anggrek akan lebih bagus bila ditempel pada pohon. Dari 2 plant yang dibeli, awalnya mendapat perlakuan yang sama, yakni ditempatkan pada media sabut seperti pada foto ini.

Meski awalnya progressnya bagus, namun lama-kelamaan salah satu plant drop dan terkena busuk daun.

Akhirnya keduanya dipindah dan ditempel pada pohon Rambutan yang ada di depan rumah. Berbeda penempatannya. Satu plant memiliki ketinggian 5 meter dari permukaan tanah, sedangkan satunya antara 2,5 – 3 m (plant yang ngedrop itu).

Hasilnya, plant drop tidak bisa terselamatkan. Tinggal satu plant sehat yang terletak sangat tinggi itu yang kemudian menjadi rajin berbunga dengan banyak kuntum!

Wednesday, January 4, 2023

PHENOLOGY/FLOWERING TIME: Vanda limbata Blume (1849)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 


 

Sekitar 1 tahun lebih tidak ada plant Vanda limbata Blume (1849) yang menghadirkan pesonanya. Dari 4 atau 5 plant, hanya satu yang paling rajin berbunga. Lainnya masih belum menampakkan bunga semenjak kedatangan mereka semua. Bahkan ada 2 plant yang mati dan drop.

Disabari dan disyukuri aja (menyemangati diri sendiri ya wkwk).

Alhamdulillah, plant yang rajin berbunga pada tanggal akhir November dan awal Desember akhirnya menghadirkan kecantikannya, meski hanya 5 kuntum.

Meskipun telat, karena kepunyaan teman-teman pecinta anggrek telah duluan berbunga.

Oh ya, hingga tanggal 26 Desember, kuntum masih tampak segar, meski ada 2 kuntum yang sudah rontok.