Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Status Paphiopedilum glaucophyllum telah lama menjadi spesies yang terancam punah (secara in-situ). Karena itu para konservator terus berusaha melakukan penyelamatan dan pelestarian.
Tidak hanya itu mirisnya.
Meski bunga cantik dengan status yang terancam punah, tetapi belum banyak yang melakukan budidaya. Padahal juga sudah masuk jajaran anggrek yang memiliki potensi dagang.
Tidak hanya itu pula mirisnya.
Belum ada breeder Indonesia yang menghasilkan karya dengan indukan ini. Padahal di BlueNanta sudah ada 100 hibrid! Dan semuanya orang asing!
TAKSONOMI
|
Familia |
: |
Orchidaceae |
|
Subfamilia |
: |
Cypripedioideae |
|
Tribus |
: |
Cypripedieae |
|
Subtribus |
: |
Paphiopedilinae |
|
Subgenus |
: |
Cochlopetalum |
|
Genus |
: |
Paphiopedilum |
|
Subgenus |
: |
Cochlopetalum |
|
Section |
: |
Cochliopetalum |
|
Epithet/Grex |
: |
glaucophyllum J.J.Sm. |
|
Finder |
: |
Herrn J. Bekking, 1897 |
|
Descriptor |
: |
Johanes Jacobus Smith (J.J.Sm.) – Belanda, 1900 |
|
1st Published |
: |
Bull. Inst. Bot. Buitenzorg 7: 1 (1900) |
|
Synonyms |
: |
Cordula glaucophylla (J.J.Sm.) Rolfe – Orchid Rev. 20: 2 (1912) Cypripedium glaucophyllum (J.J.Sm.) Mast. – Gard. Chron., ser. 3, 34: 405 (1903) Paphiopedilum victoria-regina subsp. glaucophyllum (J.J.Sm.) M.W.Wood – Orchid Rev. 84: 137 (1976) Paphiopedilum glaucophyllum f. flavoviride Braem – Austral. Orchid Rev. 66: 16 (2001) Paphiopedilum moquetteanum f. flavoviride (Braem) Braem & Chiron – Paphiopedilum: 419 (2003) |
|
Indonesian Names |
: |
Anggrek Kantung Semar Anggrek Kasut Berbulu Anggrek Kasut Anggrek Selop Anggrek Sepatu |
|
Common Names |
: |
The Shiny Blue Green Leaf Paphiopedilum Slipper Orchid The Lady Slippers Orchid Tropical Ladys-Slipper |
|
Endemic to |
: |
Semeru Mountain, Lumajang, East Jawa |
|
Altitude |
: |
200–700 m |
|
Etimology |
: |
Paphiopedilum: dari kata paphia atau paphos (Yunani), kotanya Dewi Aphrodite dalam mitologi Yunani yang terletak di Cyprus; dan pedilon (Yunani) artinya selop/sepatu glaucophyllum: ‘glaucus’ ungu hijau (warna lip) dan “phyllus” menggambarkan helai kelopak punggung yang berwarna hijau biru keputihan |
|
Similar Orchids
|
: |
Paphiopedilum liemianum (Fowlie) Karas. & Saito 1982 - green leaves Paphiopedilum moquetteanum, (J.J.Sm.) Fowlie 1980 - semburat warna kuning kehijauan pada mahkota bunganya Paphiopedilum victoria-mariae, (Sander ex Rolfe) Rolfe 1896 Keempat spesies ini sulit untuk dibedakan bila tidak melakukan pengamatan lebih mendalam |
KARAKTER UMUM
Anggrek terestrial dan litofit perennial pada lereng gunung, tebing kapur yang lembab, hutan-hutan berhumus, atau pada bioma tropis basah
Teduh dengan sedikit terang
Tinggi 30 – 45 cm (di kebun admin hanya 15 cm)
Tumbuh panas hingga hangat
BUNGA
Mekar satu persatu dengan total bunga bisa mencapai 11 kuntum. Masa mekar per kuntum hingga 20 hari dengan rentang masa gugur bunga dengan mekar bunga sesudahnya antara 2 – 3 minggu, bahkan bisa kurang tergantung kondisi lingkungan dan tanamannya. Jadi bisa berbulan-bilan menikmati keindahannya dengan masa jeda antar kuntum mekar.
Sepal dorsal (cepala dorsalis) warna dasar hijau mengkilat dengan kumpulan titik berwarna ungu dan coklat membentuk corak garis yang menarik, ukuran 3 cm. Sedangkan sepal lateral bersatu membentuk sebuah sinsepalum (dari depan tertutup lip bunga).
Petal berbentuk pita berpilin dengan sebaran corak atau garis-garis tebal berwarna ungu coklat, dari ujung ke ujung mencapai 8 cm, pada tepiannya terdapat rambut-rambut halus.
Semua perhiasan bunga Paphiopedilum glaucophyllum memiliki permukaan mengkilat dengan lapisan lilin di bagian epidermisnya.
DAUN
4 – 6 helai yang agak kaku meski tipis, oblong langset (lonjong), ujung membulat, relatif tebal, panjang ± 20 – 28,5 cm, lebar 4 – 6 cm, warna hijau kebiruan, terdapat rambut-rambut halus (ciliate) di bagian tepinya. Seludang dan pangkal daun bagian luar dihiasi warna dan juga corak bintik-bintik keunguan.
Warna daun – para bule menyebutnya – hijau kebiruan.
BULB & AKAR
Bulb tidak terlihat dan tertutup rapat oleh seludang daun.
Anakan tumbuh di sekitar tanaman induk. Bisa lebih dari satu individu baru dalam sekali periode.
Perbanyakan vegetatif secara pemisahan rumpun (split) atau tunas anakan.
Akar hanya terdiri dari beberapa utas saja dan berukuran besar.
PERAWATAN
Banyak pilihan media yang telah dilakukan para
penghobi anggrek:
- Humus/ kompos campur serasah atau cacahan pakis dengan toping moss
- Tanah gembur campur serasah atau cacahan pakis dengan toping moss
- Full cacahan pakis
- Pasir Malang
- Sekam mix cacahan arang
- Tanah bercampur kompos daun
- Batu
- Pakis pohon
Letakkan pada area yang teduh, boleh terkena sinar miring (pagi/sore) beberapa jam – berlaku relatif.
Penyiraman perlu diperhatikan baik-baik agar anggrek tidak busuk atau justru kekeringan. Intensitas penyiraman menyesuaikan karakter media tanam.
KONSERVASI
Penyebab rendahnya populasi dari anggrek ini (dan juga anggrek lainnya) biasanya diakibatkan:
- Terjadinya bala alam, kebakaran hutan, penebangan liar, dan pendayagunaan hutan yang tidak terkendali atau pengalihfungsian hutan.
- Perburuan/eksploitas yang tidak terkendali.
- Banyaknya kendala dalam perbanyakan in vitro.
- Tergolong anggrek yang kurang rajin berbunga, sehingga sulit untuk diperbanyak melalui perkembangan generatif, baik secara alamiah maupun melalui proses laboratorium/botolan.
Karena itu pelestarian dilaksanakan dengan cara konservasi in-situ dan ex-situ melalui berbagai cara dan upaya.
Dilindungi secara nasional maupun internasional, melalui:
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species)/ konvensi perdagangan internasional
Appendix I (not trading), dilarang dari segala bentuk perdagangan internasional karena terancam populasinya di alam.
Adapun anggrek yang diperjualbelikan saat ini merupakan generasi ketiga atau hasil penangkaran. Mungkin beberapa masih ada yang menjual dari hutan habitatnya. Tentu dengan cara sembunyi-sembunyi.
FYI
Awalnya Lindley telah memasukkan dan merilis seluruh anggrek kantong ke dalam genus Cypripedium dan dikenal di dunia perdagangan dengan nama itu.
Kemudian Pfitzer merilis genus Paphiopedilum tahun 1886 yang direview Rolfe pada tahun 1912. Jadi genus Paphiopedilum dan Cypripedium sama-sama genus mandiri dan saling terpisah.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
%20copy.jpg)






No comments:
Post a Comment