Assalamu‘alaikum sahabats 2tisa
Sulawesi bersama Lesser Sunda Islands, Maluku dan kepulauan-kepalauan sekitarnya berada pada garis wilayah peralihan Wallacea-Weber atau wilayah Asia-Australasia. Karakteristik flora-faunanya sangat khas, termasuk anggrek.
Ada anggrek khas Asia yang hidup di Sulawesi, meski g begitu banyak jenisnya.
Ada anggrek khas Australasia yang hidup di Sulawesi, meski g begitu banyak jenisnya.
Terbanyak memang anggrek khas yang tidak akan dijumpai di wilayah Asia maupun Australasi. Diduga keanekaragaman anggrek sangat tinggi, meski pada kenyataannya yang terpublikasi mungkin hanya 250-an spesies, meski menurut laporan terakhir (2020) anggrek Sulawesi sekitar 540 jenis. Diduga juga, tingkat keendemikan anggrek Sulawesi juga tinggi karena berada dalam bioregion ”Wallacea-Weber”.
Pendapat ini berbeda dengan Whitten et al. (2002), yang menyatakan Sulawesi memiliki daerah batuan dasar ultrabasa terbesar di dunia. Hutan ultrabasa dataran rendah ini agak terbuka dengan pohon-pohon kerdil yang menunjukkan jenis tanah yang tidak subur dan memiliki kapasitas penahan air yang kecil dan sangat kekurangan unsur hara yang dapat ditukar. Ataukah meski kondisi fotografisnya seperti itu, plasma nutfah Sulawesi beradaptasi dengan baik pada kondisi itu? Ataukah memang Sulawesi mempunyai jenis anggrek dibanding pulau-pulau lainnya?
Apalagi secara alamiah, Sulawesi secara alamiah sering terjadi konsentrasi racun logam berat, ditambah penambangan yang mengakibatkan lingkungan sekitar tercemar logam-logam berat.
Mungkin pendapat non-bloknya seperti ini:
Jenis lingkungan di atas yang demikian itu, memicu adanya adaptasi dan spesiasi di antara tanaman dan binatang yang tinggal di sana. Satu sisi memang berdampak negatif, yakni semakin berkurangnya plasma nutfah pada lingkungan minim hara dan tercemar. Namun di sisi lain juga berdampak positif dengan munculnya spesies-spesies baru yang berbeda sebelumnya, baik yang memiliki kesamaan karakteristik dengan flauna Asia dan/atau Australasia, perpaduan keduanya, atau spesies endemiknya.
Tipe habitat anggrek di Sulawesi sebenarnya juga tidak terlalu kaya seperti tersebut di atas. Mencakup beberapa di antaranya:
- Hutan pegunungan yang merupakan hutan lindung atau kawasan yang dilindungi berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah. Termasuk juga di sini hutan humus
- Hutan produksi/homogen
- Hutan rawa/mangrove
- Medan kapur berbatu/karst rock
- Lereng/perbukitan batu
RANGE MAKROKLIMAT
Soil acidity (soil pH): 5.0 – 6.5
Humidity (RH): 49.5 – 90%
Temperature: 25.4 – 33.2°C
Light (lux): 322 – 9800
Canopy dense: 60 – 80%
Altitude: 0 and 1200 m asl.
JUMLAH ANGGREK SULAWESI
Dari berbagai publikasi/laporan maupun informasi, jumlah anggrek spesies di Sulawesi dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi seperti berikut:
1925: Schlechter memperkirakan sekitar 253 taxa anggrek endemik
1929: Kjellberg pada ekspedisi Sulawesi melaporkan sebanyak 161 jenis anggrek yang hanya terdapat di Sulawesi
1994: O’Byrne memperkirakan anggrek di Sulawesi ada 548 jenis, endemik dan terdistribusi
2002: Thomas dan Schuiteman menyebut sekitar 548 jenis anggrek berada Sulawesi. Bersama dengan Maluku totalnya ada 820 jenis.
Prosentase tingkat endemik ada yang menyatakan 15%, bahkan ada yang menginformasikan hingga 80% dari perkiraan total 548 species atau sekitar 253 species merupakan anggrek endemik. Namun informasi tentang ini masih tumpang tindih dan tidak valid, karena itu perlu penelitian dan/atau penganalisisan lebih lanjut.
Sayangnya
juga, diduga sebanyak 80 persen dari total anggrek di Sulawesi nyaris punah
akibat degradasi hutan.
DEFORESTASI DAN ANCAMAN DARI AKTIVITAS MANUSIA
Meski banyak kawasan yang telah ditetapkan sebagai konservasi, seperti Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul), yang berarti tingkat kelestarian anggrek terjaga, namun pada rilnya, populasi anggrek juga diduga dalam kondisi kritis akibat deforestasi dan aktivitas penambangan. Diduga, Indonesia telah kehilangan 27,7 juta hektar hutan mulai tahun 2001 hingga 2020!
Beberapa penyebab degradasi hutan:
- Pembukaan lahan
- Alihfungsi hutan produksi/homogen atau konversi habitat alami menjadi peruntukan lain seperti perkebunan komoditas kelapa sawit dan nilam
- Kebakaran
- Pembakaran legal ataupun illegal logging
- Pembalakan hutan secara besar-besaran
- Ekspor
bunga anggrek – mungkin maksudnya penyelundupan, karena seluruh plasma nutfah
anggrek tidak boleh diperdagangkan ke luar negara.
Aktivitas tambang, seperti di Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat; Poso dan Soroako (nikel), Luwu Timur. Phalaenopsis amabilis var celebica sebagai plasma nutfah Sulawesi justru terancam oleh pertambangan nikel di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Pada prosentase yang lebih rendah, langkanya populasi anggrek disebabkan oleh perburuan atau eksploitasi anggrek yang berlebihan, utamanya anggrek yang memiliki daya nilai ekonomi.
KONSERVASI
Strategi konservasi yang efektif memang keharusan, tetapi secepat apapun progress dan proses regenerasinya tetap akan berjalan lebih lambat dibanding kerusakan habitat yang berjalan cepat seperti kilat.
Konservasi secara in-situ lebih sulit dilakukan karena berkaitan dan saling berhubungan dengan jenis plasma nuftah lainnya, baik antar flora maupun fauna. Apalagi dukungan pemerintah terhadap kelestarian plasma nutfah Indonesia juga minim karena (mungkin beranggapan) pelestarian anggrek bukanlah termasuk faktor penting, atau dengan kata lain pemerintah fokus pada bidang yang lebih penting, bahkan urgen.
Akibat dari faktor-faktor tersebut, status anggrek dapat menjadi genting dan mengalami kepunahan.
Sebenarnya penanaman hutan kembali juga dilakukan oleh perusahan tambang. Sayangnya mereka melakukan/menanam dengan species tumbuhan lain yang berbeda atau bukan spesies setempat, sehingga akhirnya akan merubah karakteristik hutan tersebut. Tentu hal ini juga berpengaruh terhadap progress ataupun tingkat kelestarian anggrek di sana, maupun flauna lainnya.
Dan kebanyakan para pecinta anggrek melakukan upaya konservasi dengan mandiri. Misalnya Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) yang telah melepasliarkan 1.000 jenis (plant/rumpun mungkin maksudnya) anggrek endemik (entah siapa yang miskomunikasi di sini karena juga ditanam anggrek hibrid dan anggrek distribusi) di Pulau Sulawesi di hutan pendidikan Bengo-Bengo, Kabupaten Maros. Anggrek berasal dari hasil perburuan dan kultur jaringan. Untuk jenisnya ada Phalaenopsis amabilis var .celebes (Anggrek Bulan Sulawesi), Phalaenopsis amboinensis, Grammatophyllum speciosom (Anggrek Tebu), Grammatophylum scriptum (Anggrek Macan), Anggrek Hitam Sulawesi, Anggrek Bambu, dan anggrek hibrida.
FUN FACTS
Geodorum densiflorum (Lam.) Schltr. ditemukan tumbuh juga sebagai anggrek epifit pada beberapa pelepah kelapa sawit
Secara umum semua jenis anggrek terrestrial dan semi terrestrial dijumpai
dekat dengan sumber air (aliran sungai) dan pemukiman
Jenis anggrek yang
berpotensi sebagai obat: Acriopsis
javanica Reinw. ex Blume, Aerides
odorata Lour., Arundina graminifolia
(D.Don) Hochr., Dendrobium crumenatum
Sw., Eulophia spectabilis Suresh., Nevilia aragoana Gaud., Geodorum densiflorum (Lam.) Schltr., Grammatophyllum
scriptum (L.) Blume, G. speciosum
Blume dan Pholidota imbricata
Lindley, Cymbidium finlaysonianum Lindl. dan Corymborchis veratrifolia (Reinw.) Bl.

No comments:
Post a Comment