Assalamu’alaikum sahabats 2tisa
Artikel seri sebelumnya: https://2tisa.blogspot.com/2023/01/kalimantan-island-orchids-1-tentang.html
Kalimantan, Problem dan Kasusnya
Selain banyak keistimewaan, Kalimantan juga dilingkupi berbagai problema lingkungan, pelestarian plasma nuftah, maupun lainnya.
Kehilangan kekayaan alam, baik flora dan fauna Kalimantan banyak diakibatkan oleh kasus-kasus penting, baik yang terjadi secara alamiah, kebakaran hutan pada musim kemarau misalnya, maupun karena perbuatan tangan manusia yang dampaknya justru lebih besar, seperti destruksi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, pembakaran ilegal, maupun aktivitas penambangan. Aktivitas-aktivitas tersebut kian lama kian meningkat, sehingga dampaknya juga kian besar. Salah satunya adalah kepunahan ratusan spesies anggrek.
Problema seperti ini sebenarnya juga merupakan masalah umum yang terjadi di berbagai penjuru dunia.
Pada level lebih rendah adalah perdagangan anggrek (plus fauna dan flora lainnya) serta mengoleksi tanpa izin. Keduanya membawa dampak lebih lanjut pada anggrek-anggrek yang memiliki daya jual tinggi.
Diperkirakan, secara keseluruhan, Borneo telah kehilangan hutan mencapai 75% pada pertengahan 1980an. Rata-rata 1,3 juta hektar hutan hilang per tahunnya (WWF 2020).
Jauh sebelumnya, menurut laporan Global Forest Watch 2002, Indonesia mengalami salah satu kehilangan lahan hutan paling dramatis di dunia. Diperkirakan sejak tahun 1996 bahwa 1 juta ha lahan hutan Indonesia dihancurkan setiap tahun, termasuk 1,7 juta ha setiap tahun selama tahun 1990-an. Faktor ekonomi, termasuk pengumpulan dan penjualan anggrek liar secara ilegal oleh "pemburu anggrek" dalam dan luar negeri, seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen akan anggrek, juga berkontribusi terhadap terancamnya anggrek asli Kalimantan.
Di sisi lain ada juga kabar yang menggembirakan, yakni ada perusahaan tambang yang juga melakukan dan mempertahankan konservasi in-situ. Misalnya PT. Bharinto Ekatama Coal Mining Nursery. Mereka menggunakan pohon/vegetasi lokal.
Kekurangan
Seperti telah disebut di atas, betapa kayanya kekayaan alam Kalimantan, tetapi sayangnya tidak diimbangi usaha pelestarian yang kontinyu. Begitu juga perhatian atau pun kepedulian pihak-pihak terkait atau pun pecinta anggrek yang berada di Kalimantan juga rendah.
Berikut beberapa kelemahan yang dicatat dari jurnal-jurnal penelitian:
Kekurangan I
Dengan plasma nutfah anggrek mencapai 2500 – 3000 jenis, ternyata hanya sedikit jurnal atau laporan penelitian. Terbukti pada artikel tentang Anggrek Kalimantan ini, hanya sedikit spesies anggrek yang terdata. Bahkan anggrek endemik Kalimantan yang terkenal pun, tidak ada dalam laporan. Rupanya banyak peneliti yang berhati-hati dalam melaporkan hasil eksplorasi mereka mengenai identitas anggrek. Banyak yang hanya menyebut genusnya saja, tanpa nama ephitet.
Mari kita lihat beberapa contoh dari anggrek yang terdata:
Pada salah satu wilayah penelitian dikatakan “Marga Bulbophyllum hanya ditemukan satu jenis (Bulbophyllum obtusipetalum), meskipun marga ini memiliki keanekaragaman jenis terbesar kedua di Borneo berkisar 313 jenis (Vermeulen, 1991; Wood dan Cribb, 1994; Beaman et al., 2001; Siregar, 2008; Govaerts et al., 2019).
Dari sejumlah itu, baru 27 jenis dicatat ada di Kalimantan Barat (Siregar, 2008) dan 15 jenis di Kalimantan Tengah (Yulia, 2007). Tentu jumlah itu belum fix ya, hanya yang dijumpai saat penelitian saja.
Kekurangan II
Tidak ada satu pun jurnal penelitian yang menyebut secara lengkap anggrek endemik Kalimantan, meski sekilas. Misalnya genus Parapahalenopsis.
Dari link di luar referensi jurnal yang telah author unduh tercatat ada 4 jenis Parapahalenopsis yang nyaris punah secara in-situ, yaitu:
- Paraphalaenopsis denevei A.D.Hawkes (1963)
- Paraphalaenopsis labukensis Shim, A.L.Lamb & C.L.Chan (1981)
- Paraphalaenopsis laycockii (M.R.Hend.) A.D.Hawkes (1963)
- Paraphalaenopsis serpentilingua (J.J.Sm.) A.D.Hawkes (1963)
Dari informasi para hunter, mereka sudah sangat susah dijumpai. Bahkan ada yang melakukan impor dari negara lain!
Begitu juga Phalaenopsis amabilis ‘Pleihari’ yang harus import kembali dari Singapore. Belum Bulbophyllum gigantea dan seabreg anggrek endemik lain yang telah sulit ditemukan pada habitatnya.
Kekurangan III
Meski wilayahnya luas, namun publikasi ilmiah tentang anggrek hutan tetap saja minim. Borneo ditaksir memiliki 288 taxa dari genus Bulbophyllum. 152 di antaranya tidak ditemukan di tempat lain alias endemik Borneo!
Sayangnya meski kali ini banyak jurnal digabung jadi satu, laporan jumlah genus Bulbophyllum tidak mencapai setengahnya. Selain itu juga beberapa, mungkin puluhan, spesies-spesies tersebut populasinya kian berkurang, bahkan langka akibat deforestasi.

No comments:
Post a Comment