Tidak ada seseorang pun selain diriku di jalan beraspal yang membelah hutan itu. Walau sesekali saat datang kemari ku lihat ada beberapa motor yang diparkir di tepi jalan, namun pemiliknya tidak nampak hidungnya sama sekali. Mungkin sudah jauh masuk ke dalam hutan. Entah untuk apa. Apakah berburu atau sekedar mencari pakan untuk ternak-ternak mereka. Saat ku hentikan motorku di suatu area yang ku kira banyak anggrek yang berjatuhan, terdengar suara-suara yang sangat asing bagiku.
Walaupun ini masih logis bagi diriku untuk merasa asing atas suara-suara itu, namun rasa jeri dan khawatir tetap membuatku was-was dan deg-degan. Aku yakin tidak akan ada perampokan atau perampasan motor karena jalan masuk ke hutan ini hanya ada dua, itu pun di pintu masuk terdapat pos penjagaan. Tentunya perampok akan berpikir seribu kali untuk melaksanakan aksinya di sini, karena pintu keluarnya juga sekaligus pintu masuknya. Pasti akan ketahuan sang penjaga yang selalu siaga menjalankan tugas mereka. Aku juga bukan ngeri adanya binatang buas, karena aku yakin di hutan dari gunung yang sudah mati jarang ditemukan binatang buas semacam harimau dan anjing hutan. Kalau kucing hutan masih pernah aku temui walau dari kejauhan saja. Biasanya kucing hutan akan segera berlari menjauh bila mengendus keberadaan manusia. Sebenarnya rasa was-was dan khawatir itu tidak beralasan sama sekali. Namun aku beranggapan aku masih dalam batas-batas kenormalan karena memang aku berada di tempat yang sama sekali tidak aku kenal.
Dan mengenai suara-suara asing yang mampir ke gendang telingaku itu aku nggak tahu pasti suara apa itu. Tetapi sepertinya memang suara serangga seperti tonggeret yang selama ini aku familiar bunyinya. Tetapi yang di hutan ini bunyinya berbeda. Seperti juga ada suara ayam hutan atau burung. Mereka tidak kelihatan. Walau sesekali ada burung yang terbang dan terlihat oleh mataku, namun aku juga tidak dapat memastikan apakah suara-suara itu juga berasal dari mereka. Terkadang satu suara yang benar-benar asing bagiku terdengar keras. Beberapa saat sebelumnya aku juga terjumpa Lutung (monyet Jawa berwarna abu-abu gelap cenderung hitam yang berekor panjang) yang sedang duduk di pembatas jalan. Namun beberapa meter sebelum aku di hadapannya, dia sudah berlari menghilang ke dalam jurang. Apakah salah satunya adalah suara mereka? Sekali lagi aku juga hanya bisa menduga-duga.
Walau pun aku mencoba mengabaikan suara-suara itu dengan memfokuskan diri untuk memunguti anggrek-anggrek yang berjatuhan, namun sepertinya aku tidak dapat sepenuhnya menghalau rasa was-was itu. Meski bisa dimengerti kalau secara naluriah kita akan merasa seperti itu di tempat yang asing, namun sebenarnya kita juga tidak boleh terlalu khawatir dengan mempertimbangkan beberapa alasan yang telah aku kemukakan sebelumnya. Akhirnya, aku berusaha untuk tenggelam dalam keasyikan memunguti anggrek.
Pada musim kemarau yang panjang, sangatlah normal bila banyak anggrek-anggrek yang terserak di lantai hutan. Dahan-dahan dan ranting-ranting yang telah mengering akan mudah patah dan jatuh dengan membawa apa saja yang menempel padanya, seperti anggrek, paku, atau lumut maupun jamur. Tentu saja kondisi seperti ini sangat menyenangkan bagi pecinta anggrek seperti aku ini, karena untuk memanjat pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi itu tidaklah memungkinkan bagiku. Aku juga telah kehilangan skill memanjat yang pernah aku miliki sewaktu masih kecil. Dan melihat anggrek-anggrek yang berserakan di lantai hutan seperti itu serasa menemukan harta karun!
Dari satu area aku berpindah ke area lain. Rasanya senang sekali apabila anggrek yang kita temukan berbeda dengan area sebelumnya atau dengan anggrek yang sudah ada di rumah. Meski sebenarnya mengasyikkan, tetapi aku tetap hati-hati dan menjaga kewaspadaanku. Aku tidak berani keluar dari area jalan beraspal karena menurutku akan berisiko. Apabila aku jatuh ke dalam jurang atau mendapat celaka lainnya, tentu akan sulit mendapatkan pertolongan. Walaupun sesekali ada penduduk atau orang yang lewat, namun tenggang waktunya tidak dapat diprediksi. Bila aku ceroboh tentu akan merepotkan orang lain. Aku tidak mau mengambil risiko itu. Jadi aku hanya memunguti anggrek-anggrek yang berjatuhan di sekitar jalan beraspal saja.
Walau rasanya nano-nano seperti itu, sepertinya aku belum merasa kapok untuk mengulang lagi pada kesempatan lain. Yuk siapa yang mau ikut? Jangan khawatir, kita tidak merusak hutan kok, hanya leles anggrek saja.

No comments:
Post a Comment