Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saat masa awal mengenal anggrek, pernah mendatangi salah satu penjual anggrek di kota kecamatan kami. Heran dibuatnya melihat Dendrobium Sonia ditanam di tanah langsung!
Ketakjuban dan keheranan terus berlangsung melihat Dendrobium striaenopsis di salah satu rumah penduduk juga ditanam dalam tanah! Anggreknya tumbuh baik dan berbunga puluhan kuntum, meski dalam media yang secara teori bukan media terbaiknya.
Kronologis mengapa ditanam demikian, menurut cerita sang pemilik, sebenarnya karena iseng saja. Pemilik menemukan batang anggrek yang telah gundul, tak berdaun dan juga tak berakar. Dibuang pun sayang, akhirnya karena juga lagi malas, maka batang tersebut ditancapkan begitu saja pada pot di sela-sela tanaman hias.
Di alamnya, Dendrobium Larat sejatinya tumbuh secara litofit pada bebatuan. Sedangkan banyak dari pecinta anggrek yang menanamnya secara epifit pada media kayu, pakis, atau lainnya. G mengapa juga sih, terpenting bisa tumbuh bagus.
Tetapi 2tisa tidak berminat memakai media tanah untuk Dendrobium striaenopsis karena umumnya anggrek yang ditanam pada media pot tidaklah bagus perkembangan dan pertumbuhannya.
Dari berbagai unggahan menginformasikan bahwa dalam keadaan darurat, tumbuhan akan mempertahankan keberlangsungan kehidupannya sedemikian rupa. Itu juga berlaku pada anggrek-anggrek tipe epifit yang hidup subur di tanah (entah karena jatuh dari pohon atau bijinya bisa berkecambah) seperti Bulbophyllum triste, Coelogyne fonstenebrarum atau jenis Coelogyne lainnya.
Begitu juga ada yang pernah menemukan anggrek terestrial, Paphiopedilum sp., ternyata bisa hidup di ceruk percabangan suatu pohon!
Begitulah, anggrek memang menyimpan misteri dan kejutan-kejutannya.
Tetapi …
Kita suka bukan hehe
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh


No comments:
Post a Comment