Wednesday, June 8, 2022

ANGGREK GAGAL: Schoenorchis juncifolia Reinw. ex Blume 1825

Assalamu‘alaikum temans 2tisa

Anggrek yang hanya ditemukan di Indonesia.

Nama Umum: Anggrek Ekor Tikus, Anggrek Bambu, Anggrek Pensil, Anggrek Tirai Bambu, Anggrek Jambul, Anggrek Wisteria, Anggrek Kawat, Anggrek Rambut, Anggrek Alang-alang. Beberapa nama tersebut sudah lama disematkan pada anggrek lain yang lebih populer dengan sebutan-sebutan itu.

So, agar tidak terjadi kesalahpahaman/mis info, sebaiknya anggrek ini mendapatkan namanya sendiri.

Ada juga yang menyebutnya sebagai Anggrek Taoge atau Anggrek Kecambah, mendasarkan pada bentuk kuntumnya memang mirip kecambah. Mungkin kedua nama ini bisa dipakai di Indonesia.

Nama internasional: The Reed-Like Leaf Schoe

Tribe: Vandeae subtribe Aeridinae


Keunikan

Ciri-cirinya sebagai anggrek monopodial nampak tidak begitu kentara, seperti banyaknya bulb anakan yang berada di sekitar bulb induk, bulb yang relatif pendek dan ramping. Juga adanya keiki yang muncul dari bulb induk. Akar udara yang merupakan ciri khas anggrek monopodial juga hanya beberapa utas, dan tidak semua plant terdapat akar udara ini, sehingga menyamarkan anggrek ini sebagai anggrek monopodial.


Habitat

Umum berada pada area lembab, sekitar sungai misalnya atau sumber mata air pada hutan-hutan di Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur), Sumatera, dan Kalimantan.

Ketinggian/elevasi +1700 m dpl. Ada yang menginformasikan 800 1200 m. Tetapi umumnya anggrek memang berhabitat di dataran tinggi.

Ditemukan dan bertoleransi menempel dengan jenis-jenis pepohonan yang homogen, seperti pohon/perkebunan teh, jati, pinus, atau karet.

Seringnya menempel pada percabangan/ranting terluar kanopi suatu pohon sehingga mendapatkan intensitas sinar matahari yang banyak, tetapi tidak terlalu panas karena masih terhalang dedaunan. Warna daun kemerah-merahan mengindikasikan plant mendapatkan siraman sinar matahari yang banyak.

 

Morfologi

Daun hijau, terkadang terdapat warna keunguan. Bentuk gilig seperti pensil atau lidi. Mirip daun Luisia sp., Pharaphalaenopsis sp., atau Vanda teres.

Panjang dapat mencapai 15 cm.

 


Warna daun memang unik. Saat mendapatkan sinar yang cukup warnanya akan kemerah-merahan. Namun apabila kita tempatkan pada tempat yang kurang mendapatkan sinar, daun yang kemerah-merahan tersebut akan berubah (kembali) menjadi hijau.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bunga tidak mekar penuh. Diameter 7 8 mm. Warna putih dan ungu. Tabung bunga mirip jambul. Dilihat dari samping nampak seperti kecambah. 

 


Tangkai bunga muncul dari ketiak daun dengan panjang mencapai 10 cm dan menyangga puluhan (≤ 30) kuntum.

 

Berbunga tidak kenal musim, atau berbunga sepanjang tahun.

Pseudobulb serupa batang, ramping tetapi kuat yang terbungkus seludang daun. Pangkal bulb yang telah tua akan berwarna coklat dan nampak kering. 

 


 

 

Bottom of Form

 

Populasi

Saccolabium juncifolium (= sinonim) tidak berada pada level yang mengkhawatirkan. Menurut beberapa penelitian, populasinya masih melimpah. Mungkin karena bukan termasuk anggrek yang memiliki daya jual ya, sehingga tidak begitu dilirik para penggemar anggrek. Atau mungkin juga daya toleransi anggrek ini terhadap perubahan kondisi lingkungannya tinggi.

Walaupun begitu, kelestariannya di alamnya tetap perlu dijaga secara ketat agar tidak menjadi anggrek hilang atau justru punah.

 

Domestikasi

Menurut Puspitaningtyas dkk., anggrek ini sering ditemukan di dataran tinggi yang tentunya memang hanya cocok didomestikasi di daerah yang sama-sama bersuhu sejuk.

Namun dengan teknik dan cara rekayasa yang sudah sedemikian maju, maka tak masalah bila anggrek juga dirawat di dataran rendah, asalkan cara-cara perawatannya sesuai. 





Barakallah 4u all

 

 

 

No comments:

Post a Comment